cropped-cropped-logo-ybpk.png
Loading ...

Bukan Sekadar Bertahan: YBPK GKJW Rumuskan "Edupreneurship" dan Bedah Data Krisis di Hari Kedua Raker 2025

Bukan Sekadar Bertahan: YBPK GKJW Rumuskan “Edupreneurship” dan Bedah Data Krisis di Hari Kedua Raker 2025

Dok. YBPK-GKJW

BATU – Jika hari pertama adalah tentang membasuh jiwa, maka hari kedua Rapat Kerja Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK-GKJW) adalah tentang mengasah pedang. Minggu, 9 November 2025, menjadi momen krusial di YWI Batu, di mana ratusan peserta yang terdiri dari Pengurus Cabang dan Kepala Sekolah dihadapkan pada realitas keras kompetisi pendidikan modern.

Berdasarkan dokumen Buku Saku Raker, agenda hari kedua yang dimulai pukul 08.00 WIB ini memecah peserta ke dalam dua kamar diskusi strategis yang intens. Tidak ada lagi basa-basi seremonial; yang tersaji adalah data, regulasi, dan strategi bertahan hidup.

Dari "Boss" Menjadi Pemimpin Transformasional

Di ruang para Kepala Sekolah, materi “Pemimpin yang Menginspirasi” yang dibawakan pada sesi kedua (10.30 – 12.00) menjadi sorotan utama. Dokumen presentasi menunjukkan pergeseran paradigma yang radikal: Kepala Sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi administrator yang duduk di balik meja.

Materi tersebut menekankan empat keping puzzle manajerial: Pengelolaan Anggaran, Manajemen Waktu, Pengelolaan SDM, dan Pengembangan Profesional. Namun, poin kuncinya terletak pada konsep “Kepemimpinan Transformasional”. Peserta diajak mengubah mindset bawahan dari sekadar “bekerja untuk gaji” menjadi “berjuang untuk visi”.

Teori ini selaras dengan pemikiran Bernard M. Bass, seorang ahli psikologi organisasi terkemuka. Dalam bukunya Leadership and Performance Beyond Expectations, Bass menyatakan bahwa pemimpin transformasional adalah mereka yang mampu merangsang intelektual stafnya dan memberikan pertimbangan individual, sehingga pengikut melakukan lebih dari yang diharapkan.

Bagi para Kepala Sekolah YBPK yang hadir, ini adalah “oleh-oleh” terbesar. Mereka pulang dengan kesadaran bahwa untuk memenangkan hati Generasi Z dan Alpha, mereka harus menjadi figur yang melayani sekaligus visioner, bukan sekadar pemegang stempel kebijakan.

Konfrontasi Data: Peta Kluster "Lampu Merah"

Sementara itu, sesi yang paling membuka mata—dan mungkin paling mendebarkan—adalah paparan materi “Pemetaan Mandiri Kluster Unit” yang disajikan oleh Tim Pengawas. Data yang ditampilkan tidak main-main. Dari 66 unit sekolah yang dipetakan, terlihat jelas kategori sekolah yang masuk dalam zona “Mandiri” (Sangat Baik), “Binaan” (Cukup), dan yang paling mengkhawatirkan: “Krisis” (Rendah).

Dokumen pemetaan menunjukkan indikator yang sangat spesifik, mulai dari keberlanjutan jumlah siswa baru, kesehatan finansial (apakah kas cukup untuk operasional 3 bulan?), hingga mutu pembelajaran.

Pendekatan berbasis data ini mengingatkan pada konsep The Stockdale Paradox yang dipopulerkan oleh Jim Collins dalam buku manajemen legendaris Good to Great. Collins menekankan pentingnya sebuah institusi untuk “confront the brutal facts” (menghadapi fakta brutal) namun tetap memiliki keyakinan teguh bahwa mereka akan berhasil.

Para Pengurus Cabang YBPK GKJW diajak untuk tidak lagi menyangkal kenyataan. Jika sekolah berada di zona “Krisis” atau “Redesain”, maka intervensi radikal diperlukan. Raker hari kedua ini memberikan cermin yang jujur bagi setiap cabang untuk melihat wajah asli sekolah mereka tanpa filter.

Menuju Edupreneurship: Sekolah sebagai Pusat Kreatif

Jawaban atas tantangan data tersebut tersaji dalam sesi “Strategi Pengembangan YBPK” yang mengusung tema Edupreneurship – Creative Center. Materi ini, yang dipandu oleh Prof. Dr. Hari Wahyono, memperkenalkan penggunaan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) bukan sebagai teori usang, melainkan alat bertahan hidup.

Baca Juga  Agus Nowo Wasono, SP

Dalam slide materi SWOT, ditekankan pentingnya melihat “Peluang Eksternal” dan “Ancaman Kompetitor”. Sekolah YBPK didorong untuk menciptakan unit usaha (profit center) yang tidak hanya mengandalkan SPP siswa.

Konsep Edupreneurship (kewirausahaan pendidikan) ini divalidasi oleh Prof. Rhenald Kasali, pakar manajemen Indonesia, yang dalam berbagai kajiannya menyebutkan bahwa sekolah di era disrupsi harus mampu melakukan shifting. Sekolah tidak bisa lagi hanya menjadi menara gading akademik, tetapi harus menjadi ekosistem yang mampu menghidupi dirinya sendiri melalui inovasi dan kolaborasi dengan dunia industri.

Para peserta Raker mendapatkan wawasan bahwa aset sekolah—baik lahan maupun kekayaan intelektual (seperti desain seragam yang dibahas di hari sebelumnya)—harus dikelola secara produktif. Sekolah harus menjadi “Creative Center” yang menghasilkan nilai ekonomi tanpa mengorbankan nilai pendidikan.

Apa yang Dibawa Pulang?

Ketika Raker ditutup pada pukul 12.30 WIB, para peserta—Pengurus Cabang dan Kepala Sekolah—tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa tiga “senjata” utama untuk menghadapi Tahun Ajaran 2026-2027:

  1. Peta Navigasi: Melalui Cluster Mapping, mereka tahu persis posisi sekolah mereka saat ini (apakah aman atau bahaya).
  2. Kompas Strategi: Melalui analisis SWOT dan konsep Edupreneurship, mereka memiliki arah baru untuk mencari pendanaan kreatif di luar jalur konvensional.
  3. Mentalitas Baru: Dari sekadar pengelola sekolah menjadi pemimpin transformasional yang siap berinovasi.

Hari kedua Raker YBPK GKJW 9 November 2025 ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan berbasis keagamaan tidak harus kaku dan tertinggal. Dengan memadukan iman (hari pertama) dan strategi manajemen modern (hari kedua), YBPK GKJW sedang membangun jalan tol menuju kemandirian institusi.