
Pada Sabtu pagi yang cerah, 18 Oktober 2025, suasana di ruang GKJW Mojowarno begitu berbeda. Berbeda dengan kebiasaan kita yang sering tenggelam dalam dunia digital dan gadget, di sini, puluhan siswa tengah asyik menabuh gamelan dengan penuh semangat. Mereka tidak hanya memainkan instrumen; mereka sedang melestarikan tradisi, membangun karakter, dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam diri mereka.
Terlihatkan aktivitas ekskul karawitan yang berlangsung dengan penuh konsentrasi. Di atas karpet merah, para siswa mengenakan seragam kasual namun tetap fokus dan serius. Beberapa siswa memegang saron, bonang, dan gong dengan penuh keterampilan, siap mengalunkan harmoni indah. Di latar belakang, seorang guru bertindak sebagai pemimpin irama, memberikan aba-aba yang menuntun mereka untuk mengikuti alur gending. Kegiatan ini bukan hanya tentang latihan musik, melainkan sebuah upaya untuk menanamkan kedisiplinan, kerja sama, dan rasa hormat terhadap budaya.
Ekskul karawitan SMPK YBPK Mojowarno bukan sekadar kegiatan seni belaka. Lebih dari itu, ini adalah sarana yang efektif untuk menanamkan karakter yang kuat pada generasi muda. Di dalam ruang latihan, setiap siswa belajar untuk tidak egois. Mereka harus saling mendengarkan, saling menghormati, dan saling mendukung satu sama lain. Setiap instrumen memiliki peran penting—dari saron, bonang, hingga gong—semuanya harus berjalan serentak untuk menciptakan harmoni yang sempurna.
Saat seorang pemain saron memainkan nada, instrumen lainnya harus mendukung dengan tepat. Pemain bonang, misalnya, memiliki tugas untuk mengisi kekosongan nada dengan penuh keindahan. Semua ini mengajarkan para siswa arti kerja sama tim, ketekunan, dan kesabaran. Dalam dunia yang sering mengedepankan kepuasan instan, ekskul karawitan ini mengajarkan mereka untuk menghargai proses, berlatih berulang kali untuk mencapai kesempurnaan, dan memiliki keteguhan untuk tidak menyerah pada kesulitan.
Mereka belajar tentang kedisiplinan, menunggu giliran mereka untuk tampil, mengikuti tempo dengan tepat, dan menghargai instruksi yang diberikan oleh pemimpin irama. Ini adalah nilai-nilai yang tidak hanya penting dalam seni, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Pada pagi itu, gending yang mereka mainkan adalah “Kebo Giro”, sebuah lagu tradisional yang kaya akan makna. Gending ini, yang biasa diperdengarkan dalam upacara pernikahan adat Jawa, adalah lagu penyambut yang penuh semangat. Gending “Kebo Giro” memiliki tempo cepat dan volume keras, mencerminkan semangat yang tinggi dalam menyambut tamu atau memulai sesuatu yang baru.
Secara harfiah, “Kebo Giro” berarti “Kerbau yang Bergerak Cepat”. “Kebo” merujuk pada kerbau, simbol kekuatan, kerja keras, dan keteguhan dalam budaya Jawa. “Giro”, yang berasal dari bahasa Sanskerta, menggambarkan gerakan cepat dan dinamis. Dalam konteks pernikahan, gending ini melambangkan harapan agar pengantin pria memiliki sifat seperti kerbau—bertenaga, bekerja keras, dan menjadi pilar yang kokoh bagi keluarga.
Namun, lebih dari sekadar musik penyambut, “Kebo Giro” mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan. Ketika diperdengarkan dalam latihan karawitan, gending ini mengingatkan para siswa untuk menjadi individu yang teguh, penuh semangat, dan siap bekerja keras untuk mencapai tujuan. Dengan memainkan gending ini, mereka bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menyerap nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya.
Melihat para siswa SMPK YBPK Mojowarno dengan penuh semangat memainkan “Kebo Giro”, kita tidak hanya melihat mereka sebagai generasi yang belajar tentang gamelan. Mereka adalah penjaga tradisi yang mewarisi nilai-nilai luhur dari nenek moyang, dan lebih penting lagi, mereka adalah generasi yang menyadari pentingnya melestarikan budaya di tengah arus globalisasi.
Ekskul karawitan ini memberikan mereka kesempatan untuk lebih mengenal akar budaya mereka. Mereka belajar menghargai seni, menghormati waktu, serta mengembangkan kedisiplinan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Di ruang ekskul tersebut, mereka tidak hanya mengasah keterampilan musik, tetapi juga mengembangkan karakter yang kuat, yang akan bermanfaat dalam kehidupan pribadi mereka maupun dalam masyarakat.
SMPK YBPK Mojowarno patut diapresiasi karena telah menyediakan ruang bagi siswa untuk menumbuhkan semangat pelestarian budaya melalui ekskul ini. Dalam dunia yang semakin modern, di mana teknologi sering mendominasi perhatian anak-anak muda, kegiatan seperti karawitan menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian budaya.
Melalui kegiatan ekskul karawitan ini, siswa SMPK YBPK Mojowarno tidak hanya bermain gamelan, mereka sedang menabuh masa depan yang penuh semangat, kerja keras, dan kebersamaan. Gending “Kebo Giro” yang mereka mainkan bukan hanya mengalunkan nada, tetapi juga menyampaikan pesan filosofi yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka. Mereka diajarkan untuk tidak mudah menyerah, untuk bekerja keras, dan untuk selalu menjaga semangat dalam setiap langkah kehidupan mereka.
Video yang diambil pada Sabtu pagi itu bukan hanya sekadar rekaman latihan, tetapi sebuah simbol bahwa tradisi tidak akan punah. Di Mojowarno, semangat untuk menjaga dan merawat warisan budaya masih hidup di hati generasi muda. Mereka adalah tunas penjaga tradisi yang akan terus berkembang, memastikan bahwa jiwa dan filosofi “Kebo Giro” tetap bergema dalam kehidupan mereka.
Kita patut bangga dengan apa yang telah dicapai oleh SMPK YBPK Mojowarno. Melalui ekskul karawitan ini, mereka tidak hanya mengajarkan musik, tetapi juga membentuk karakter yang kuat dan mempersiapkan generasi yang tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga siap untuk melestarikannya di masa depan