
Malang – Ada jenis perayaan Natal yang tidak sekadar “acara tahunan”. Ia seperti tombol refresh: menghangatkan relasi, mempertemukan kembali keluarga besar pelayanan, dan menyuntikkan harapan baru untuk melangkah ke tahun berikutnya. Itulah nuansa yang mengemuka dalam Natal Bersama Organ Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK-GKJW), yang menghadirkan Pembina, Pengurus, dan Pengawas YBPK-GKJW beserta keluarga masing-masing.
Bukan hanya karena rangkaian acaranya yang tertata rapi, melainkan juga karena satu keputusan penting: memilih Depot 88 sebagai lokasi perayaan. Pilihan tempat, sering kali, menentukan “rasa” sebuah pertemuan. Dan kali ini, rasanya hangat.
Acara ini dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu Tanggal 10 Januari 2026, pukul 10.00 WIB, bertempat di Depot 88, Jl. Raya Tidar No. 21, Malang. Undangan juga menyebutkan adanya konfirmasi kehadiran melalui QR code, serta detail kecil yang justru membuat acara terasa personal: hadir bersama pasangan (suami/istri) dan membawa kado dengan harga yang disepakati yaitu Rp 50.000 untuk tukar kado khusus Organ tentu sudah dibungkus kertas kado. Detail sederhana, tetapi sering menjadi pemantik tawa dan momen-momen yang “viral” di grup keluarga besar.
Dalam banyak acara komunitas, tempat yang dipilih biasanya jatuh pada dua kategori: yang “praktis” atau yang “berkesan”. Depot 88, bagi banyak penyelenggara, bisa berada di dua-duanya sekaligus praktis karena aksesnya jelas dan mudah ditemukan, berkesan karena suasananya mendukung percakapan dan pertemuan yang tidak kaku.
Ada beberapa alasan mengapa Depot 88 Malang terasa cocok untuk Natal Bersama YBPK-GKJW:
Suasana yang ramah keluarga
Natal bersama Organ YBPK-GKJW diikuti keluarga. Itu artinya ada kebutuhan ruang yang tidak hanya nyaman untuk rapat-seremonial, tetapi juga kondusif untuk obrolan santai, canda anak-anak, dan momen foto bersama yang tidak “tergesa-gesa”.
Ruang yang mendukung keakraban
Bukan rahasia, inti dari Natal bersama adalah “bertemu lagi” setelah sibuk dengan ritme kerja dan pelayanan. Tempat yang terlalu formal membuat orang sungkan. Sebaliknya, ruang yang hangat mendorong orang untuk menyapa, bercanda, dan—ini penting—mendengar satu sama lain.
Vibe yang pas untuk acara komunitas
Natal bersama membutuhkan kombinasi: ada sesi serius (sambutan, renungan) dan ada sesi cair (ramah tamah, tukar kado, foto). Depot 88 memberi kesan “satu tempat untuk semua mood”: bisa khidmat tanpa terasa tegang, bisa santai tanpa kehilangan arah.
Di tengah kota yang pilihan tempatnya semakin banyak, memilih Depot 88 seperti mengatakan, “Kita ingin merayakan Natal dengan rasa rumah, bukan rasa panggung.”
Sumber utama kekuatan sebuah acara seperti ini bukan pada dekorasi atau susunan acara yang wah. Kekuatannya ada pada perjumpaan orang-orang yang sama-sama memikul panggilan, namun datang dengan wajah keluarga: suami-istri, anak, cerita, dan tawa.
Rangkaian acara yang berpotensi hadir dalam Natal Bersama Organ YBPK-GKJW antara lain:
Sambutan dari Pembina
Biasanya menjadi penanda arah: apa yang patut disyukuri, apa yang perlu dijaga, dan apa yang harus dibangun bersama. Ada nada kebapakan (atau keibuan) yang menenangkan: pelayanan berjalan bukan karena hebatnya satu dua orang, tetapi karena kesetiaan banyak tangan.
Sambutan dari Pengurus dan Pengawas
Jika Pembina memberi arah, Pengurus dan Pengawas biasanya memberi “napas kerja”: laporan singkat, kilas balik, dan harapan konkret. Di sini, bahasa organisasi bertemu bahasa persaudaraan. Serius, tetapi tidak kering.
Sambutan dari Majelis Agung GKJW
Kehadiran unsur Majelis Agung GKJW menegaskan bahwa YBPK-GKJW bukan berdiri sendiri. Ada jalinan visi gereja, pendidikan, dan pelayanan yang saling menguatkan. Natal bersama menjadi semacam “titik temu” antara struktur dan spiritualitas, antara kerja dan kasih.
Renungan singkat
Ini bagian yang sering menjadi “pause” paling berharga. Renungan singkat mengajak semua yang hadir kembali ke inti: Natal bukan hanya perayaan, melainkan kabar baik tentang kehadiran Tuhan yang merangkul manusia apa adanya, lalu mengubahnya menjadi lebih baik.
Dan setelah sesi-sesi itu, biasanya acara mengalir ke bagian yang paling dinanti keluarga: ramah tamah, tukar kado, foto, dan obrolan yang kadang lebih jujur daripada rapat formal. Di sinilah perayaan terasa “hidup”.
Tukar kado sering dianggap sepele. Padahal, di banyak komunitas, sesi ini adalah mesin pencipta kenangan. Dengan nominal yang disepakati (Rp 50.000) dan kado yang dibungkus rapi, selalu ada kejutan: siapa dapat apa, siapa ketawa paling keras, dan siapa yang langsung bilang, “Ini cocok banget buat aku,” sambil orang lain protes, “Lho, aku juga mau!”
Inilah momen yang mudah “viral”—bukan dalam arti sensasi, melainkan dalam arti shareable: gampang dibagikan, membuat orang lain tersenyum, dan menjadi bahan cerita bahkan setelah acara selesai. Apalagi jika ada yang mendapat kado unik, lucu, atau “ngena” sekali dengan karakternya.
Ditambah lagi, adanya konfirmasi kehadiran via QR memberi kesan rapi dan modern: tradisi tetap jalan, manajemen acara juga tertib. Ini kombinasi yang disukai banyak orang.
Dalam suasana yang hangat bukan di podium besar, tetapi di antara orang-orang yang saling mengenal Pengurus menyampaikan mimpinya: suatu hari, Natal Bersama tidak hanya menjadi momen Organ YBPK Pusat, tetapi juga bisa dirayakan bersama Pengurus Cabang. Mimpi itu terdengar sederhana, tetapi siapa yang pernah mengurus organisasi tahu: menyatukan jadwal, menyatukan tempat, menyatukan energi, dan menyatukan semangat lintas wilayah bukan pekerjaan ringan.
Namun mimpi yang lahir dari niat baik sering menemukan jalannya.
Kalimat yang kemudian menjadi doa bersama pun menguat. Sebuah doa yang tidak dibuat-buat. Doa yang lahir dari keyakinan bahwa hal baik layak diperjuangkan bersama.
Dan harapan itu bukan berhenti sebagai wacana. Ia menjadi arah. Ia menjadi rencana. Ia menjadi komitmen.
Sehingga, seperti cerita yang ingin ditulis ulang setiap tahun, mimpi itu diyakini akan terwujud pada perayaan Natal tahun berikutnya: Natal bersama yang lebih luas, lebih merangkul, lebih menyatukan. Dari Malang, semangatnya bisa menjalar.
Ada alasan mengapa Natal Bersama YBPK-GKJW layak dipandang sebagai lebih dari sekadar acara seremonial.
Pertama, YBPK-GKJW bergerak dalam pelayanan pendidikan dan pembinaan. Dunia pendidikan menuntut ketekunan, kerja sunyi, dan konsistensi. Natal menjadi momen “berhenti sejenak” untuk mengingat mengapa semua itu dijalankan: demi memuliakan Tuhan dan melayani sesama.
Kedua, perjumpaan keluarga besar Pembina, Pengurus, dan Pengawas menguatkan jejaring emosional. Dalam organisasi, yang sering membuat bertahan bukan hanya SOP, tetapi rasa memiliki. Natal bersama membangun rasa memiliki itu.
Ketiga, ada aspek regenerasi dan keteladanan. Ketika keluarga ikut hadir, anak-anak melihat contoh: bahwa pelayanan dan kebersamaan bukan slogan. Mereka melihatnya nyata—dalam salam, dalam doa, dalam tertawa bersama.
Jika ada satu kata untuk merangkum Natal bersama ini, mungkin “pulang”. Pulang ke nilai, pulang ke relasi, pulang ke panggilan.
Natal Bersama Organ YBPK-GKJW di Depot 88 Malang bukan sekadar pertemuan Pembina, Pengurus, dan Pengawas. Ia adalah ruang untuk menyambung yang sempat longgar, menguatkan yang mulai lelah, dan menyalakan kembali mimpi yang sempat disimpan.
Dan bila benar mimpi Pak Ketua akan terwujud tahun depan—Natal bersama hingga Pengurus Cabang—maka perayaan 10 Januari 2026 ini akan dikenang sebagai salah satu “titik awal” yang bermakna. Sebab Tuhan kerap memulai perkara besar dari meja makan yang sederhana, dari tawa yang jujur, dan dari doa yang kompak: Gusti mberkahi.