
KEDIRI – Suasana berbeda kini terasa di ruang kelas SD YBPK Semampir. Tidak ada lagi debu kapur yang mengepul atau spidol yang tintanya kerap macet. Perhatian siswa kini tersedot pada sebuah layar “raksasa” selebar 75 inci yang bertengger gagah di depan kelas.
Bukan sekadar televisi biasa, perangkat ini adalah Interactive Flat Panel (IFP) atau Smartboard, sebuah bantuan strategis dari Dinas Pendidikan (Diknas) yang menandai babak baru bagi sekolah swasta bersejarah ini dalam mengarungi samudra Kurikulum Merdeka. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa sekolah berbasis yayasan keagamaan seperti YBPK tidak kalah gesit dalam beradaptasi dengan teknologi dibanding sekolah negeri maupun internasional.
Pemberian bantuan ini bukanlah “hadiah” tanpa alasan. Dalam lanskap pendidikan nasional saat ini, Smartboard 75 inci adalah simbol dari Program Digitalisasi Sekolah yang digencarkan oleh Kemendikbudristek.
Perangkat ini memungkinkan guru untuk mengakses Platform Merdeka Mengajar (PMM) secara langsung, memutar video edukasi resolusi 4K, hingga melakukan simulasi sains interaktif yang mustahil dilakukan di papan tulis konvensional. Bagi siswa Gen Alpha yang tumbuh dengan gawai, metode ini bukan hanya menarik, tapi “relate” dengan dunia mereka.
Bantuan ini biasanya mencakup paket TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang berisi laptop, konektor, dan layar interaktif tersebut. Tujuannya jelas: menghapus kesenjangan digital dan memastikan standar pembelajaran yang merata.
Bagi pembaca yang bertanya-tanya, “Apa dasarnya sekolah mendapatkan alat secanggih ini?”, jawabannya terletak pada kebijakan prioritas nasional.
Bantuan TIK seperti Smartboard ini didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 3 Tahun 2022 tentang Petunjuk Operasional Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Pendidikan.
Secara spesifik, pengadaan ini merujuk pada upaya pemenuhan sarana pembelajaran berbasis TIK. Ada tiga tujuan utama (Grand Design) dari pemerintah melalui pembagian ini:
“Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Namun, tanpa alat yang tepat di tangan guru yang hebat, tujuan pendidikan akan sulit dicapai secara maksimal di abad ke-21 ini.” — Kutipan relevan dari Nadiem Makarim, mantan Mendikbudristek, dalam berbagai kesempatan mengenai digitalisasi sekolah.
Meskipun teknologi menjadi sorotan utama, “jiwa” dari sekolah ini tetaplah karakter. Berlokasi strategis di wilayah Semampir, Kota Kediri, SD YBPK Semampir berada di bawah naungan Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).
Berbeda dengan narasi standar yang ada di laman resmi yayasan, SD YBPK Semampir memiliki keunikan tersendiri. Sekolah ini adalah perpaduan unik antara kedisiplinan etos Kristen dan kearifan budaya Jawa.
Jika merujuk pada nilai-nilai YBPK-GKJW, sekolah ini tidak hanya mencetak anak pintar, tetapi juga anak yang “migunani” (berguna). Dalam konteks penerimaan Smartboard ini, SD YBPK Semampir menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa:
SD YBPK Semampir membuktikan bahwa sekolah swasta berbasis agama mampu menjadi pionir modernisasi. Mereka tidak menolak perubahan zaman, melainkan merangkulnya untuk memperkuat penyampaian nilai-nilai luhur yayasan.
Dengan hadirnya layar 75 inci ini, guru di SD YBPK Semampir kini memiliki “senjata” baru.
Pemberian Smartboard 75 inci dari Diknas ke SD YBPK Semampir adalah sinyal positif. Ini adalah bukti kolaborasi apik antara pemerintah dan sekolah swasta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bagi orang tua yang sedang mencari sekolah, momen ini menjadi validasi bahwa SD YBPK Semampir serius dalam meningkatkan kualitas sarana prasarana. Fasilitas modern kini bukan lagi monopoli sekolah internasional mahal; sekolah yang berakar kuat pada nilai komunitas seperti SD YBPK Semampir pun kini telah siap menyongsong masa depan.
Sekolah ini telah membuktikan: mereka memegang teguh iman di hati, namun memegang teknologi di tangan.