cropped-cropped-logo-ybpk.png
Loading ...

"Parenting Kids Ceria" Jurus Jitu PAUD YBPK Sidorejo Pare Atasi Kecanduan Gadget

“Parenting Kids Ceria” Jurus Jitu PAUD YBPK Sidorejo Pare Atasi Kecanduan Gadget

Dok. PAUD YBPK Sidorejo Pare

PARE, KEDIRI – Di sudut-sudut kafe, di ruang tunggu dokter, hingga di ruang keluarga kita sendiri, pemandangan ini kian lumrah: balita yang duduk anteng, matanya tak berkedip menatap layar smartphone atau tablet. Tidak ada rengekan, tidak ada lari-larian, namun di balik ketenangan semu itu, ada ancaman “bom waktu” perkembangan kognitif dan sosial emosional yang siap meledak kapan saja.

Lahir di tengah pusaran teknologi tanpa batas, Generasi Alpha (anak-anak yang lahir mulai tahun 2010 hingga pertengahan 2020-an) menghadapi tantangan pengasuhan yang sama sekali berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Mereka bernapas berdampingan dengan algoritma digital. Menyadari urgensi dari krisis tak kasat mata ini, PAUD YBPK Sidorejo – Pare mengambil langkah nyata yang patut diacungi jempol.

Melalui sebuah acara bertajuk “Parenting Kid’s Ceria”, sekolah ini mengusung tema yang sangat relevan dan mendesak: “Antisipasi Dini Perubahan Perilaku & Pencegahan Kecanduan HP/Gadget Pada Generasi Alpha Di Era Digitalisasi”.

Puji Tuhan, hari ini PAUD YBPK Sidorejo mendapatkan anugerah tambahan ilmu yang luar biasa. Acara ini bukan sekadar kumpul wali murid biasa, melainkan sebuah gerakan akar rumput yang strategis dengan menggandeng pakar kesehatan langsung dari Puskesmas Sidorejo sebagai narasumber utama, serta mendapat dukungan penuh dengan kehadiran Ibu Camat Pare.

Gebrakan Nyata dari Atas Karpet Biru

Berdasarkan liputan dan dokumentasi langsung dari lokasi acara, suasana di dalam balai pertemuan yang beratap kayu tinggi itu terasa begitu hidup dan hangat. Jauh dari kesan seminar yang kaku dan membosankan, acara ini dikemas secara interaktif. Ratusan anak dengan seragam khas pelaut bernuansa biru-putih tampak berbaris rapi di atas karpet biru, melakukan senam ceria bersama para orang tua mereka.

Keterlibatan fisik seperti menggerakkan tangan bersama, tawa yang lepas, dan interaksi tanpa sekat antara anak, orang tua, dan para guru menjadi antitesis dari sifat isolatif sebuah gadget. Ada momen bonding yang luar biasa mahal terekam; saat para orang tua berdiri di belakang anak-anak mereka, memegang pundak sang buah hati dengan penuh kebanggaan. Ini adalah bentuk komunikasi non-verbal yang menyampaikan pesan: “Ayah dan Ibu ada di sini untukmu, di dunia nyata, bukan di balik layar.”

Kehadiran Ibu Camat Pare dan jajaran pejabat desa yang mengenakan seragam dinas, duduk berdampingan dengan para guru serta narasumber di depan pentas, memberikan sinyal kuat bahwa isu kecanduan gawai pada anak usia dini bukan lagi sekadar masalah domestik rumah tangga. Ini adalah masalah sosial yang membutuhkan intervensi dan kolaborasi dari tingkat pemerintah kecamatan, fasilitas kesehatan dasar (Puskesmas), hingga institusi pendidikan.

Mengapa Generasi Alpha Sangat Rentan?

Narasumber dari Puskesmas Sidorejo mengupas tuntas bagaimana paparan cahaya biru (blue light) dan rentetan video berdurasi pendek (seperti di TikTok atau YouTube Shorts) memanipulasi pelepasan dopamin di otak anak-anak. Anak menjadi terbiasa dengan stimulasi cepat. Akibatnya, ketika dihadapkan pada aktivitas dunia nyata yang berjalan lebih lambat—seperti membaca buku, mewarnai, atau sekadar mengobrol—mereka mudah merasa bosan, tantrum, dan menunjukkan perubahan perilaku yang drastis.

Kecanduan HP bukan sekadar soal mata yang minus, melainkan soal Speech Delay (keterlambatan bicara), kurangnya empati, hingga hilangnya fokus dan konsentrasi.

Mengenai hal ini, pandangan medis telah memberikan batasan yang sangat tegas. Mengutip rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak di bawah usia 2 tahun sama sekali tidak dianjurkan menggunakan gadget (termasuk TV), kecuali untuk video call singkat bersama keluarga. Sementara untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, durasi screen time maksimal hanyalah 1 jam per hari, itu pun harus dengan pendampingan orang tua.

Psikolog anak terkemuka Indonesia, Elly Risman, Psi, dalam berbagai kesempatannya juga sering menegaskan bahaya digital parenting. Beliau menuturkan, “Memberikan gadget pada anak usia dini tanpa pengawasan dan batasan, sama halnya dengan membiarkan mereka masuk ke hutan belantara tanpa bekal. Otak anak yang sedang berkembang sangat rentan terhadap kerusakan sirkuit saraf akibat stimulasi visual yang berlebihan.”

Menyambung Benang Merah DNA YBPK-GKJW

Langkah proaktif yang dilakukan oleh PAUD YBPK Sidorejo ini sejalan dengan visi besar Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK-GKJW). Jika kita menilik kembali rekam jejak YBPK melalui situs resminya di www.ybpk-gkjw.org, lembaga ini selalu menitikberatkan pada pendidikan holistik yang berlandaskan pada nilai-nilai kasih, integritas, dan pembentukan karakter sejak dini.

Baca Juga  Berkat Tuhan dan Peran Dana Pokir dalam Pembangunan TK 01 YBPK Cabang Peniwen

Pendidikan di lingkungan YBPK-GKJW tidak pernah hanya berorientasi pada transfer ilmu kognitif semata (calistung), tetapi pada penanaman moral dan spiritual. Mengedukasi orang tua agar mampu menjadi “filter” gawai bagi anak-anaknya adalah manifestasi dari komitmen yayasan untuk melindungi jiwa generasi penerus. Di era di mana batas antara kebenaran dan disinformasi mengabur di dunia maya, fondasi karakter di dunia nyata adalah satu-satunya jangkar yang bisa menyelamatkan anak-anak kita.

Tidak ada aplikasi parenting manapun di Play Store atau App Store yang bisa menggantikan sentuhan fisik, dongeng sebelum tidur dari suara ibu, atau bermain tanah dan berlarian bersama ayah.

Aksi Nyata untuk Para Orang Tua

Acara “Parenting Kid’s Ceria” hari ini memberikan beberapa takeaways penting bagi orang tua untuk diimplementasikan di rumah:

  1. Diet Digital Keluarga: Mulailah menetapkan zona bebas gadget di rumah, misalnya di meja makan atau di kamar tidur.
  2. Jadilah Role Model: Anak adalah peniru ulung. Orang tua tidak bisa melarang anak main HP jika orang tua sendiri terus menunduk menatap layar.
  3. Substitusi Kegiatan Bermakna: Ganti waktu layar dengan kegiatan fisik. Libatkan anak dalam kegiatan domestik sederhana, berkebun, atau bermain sensorik seperti yang dipraktikkan dalam sesi senam bersama di balai desa hari ini.

Acara kemudian ditutup dengan momen pembagian apresiasi oleh pejabat setempat kepada anak-anak yang berani tampil, dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang riuh dan penuh senyuman. Wajah-wajah mungil yang ceria tanpa gawai di tangan mereka hari ini adalah bukti bahwa kebahagiaan sejati Generasi Alpha masih berada di dunia nyata.

Kita patut bersyukur atas inisiatif cerdas dari PAUD YBPK Sidorejo Pare. Semoga percikan kesadaran dari Pare ini mampu menjalar ke seluruh pelosok negeri, memastikan anak-anak kita tidak menjadi generasi “zombie digital”, melainkan generasi penerus bangsa yang sehat jiwanya, kuat karakternya, dan cerdas sosialnya.