
KEDIRI, 12 November 2025 – Suasana berbeda terasa di ruang kelas SD YBPK Semampir, Kota Kediri, pada Rabu pagi ini (12/11/2025). Tidak ada buku paket tebal yang mendominasi meja, melainkan hamparan kain-kain panjang berwarna-warni yang memikat mata. Di depan kelas, seorang guru tampak antusias memperagakan penggunaan sehelai kain ungu yang melingkar di lehernya, sementara puluhan pasang mata siswa menatap dengan penuh rasa ingin tahu.
Ini bukan pelajaran tata busana, melainkan sebuah terobosan dalam pendidikan karakter berbasis iman yang diterapkan oleh sekolah yang beralamat di Jl. Mayor Bismo 52 ini. Mata pelajaran tersebut bernama “Ke-GKJW-an”, sebuah kurikulum khas yang dirancang untuk mengenalkan identitas Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) kepada para siswa sejak usia dini. Fokus hari ini sangat spesifik namun sarat makna: Mengenal Stola.
Di tengah gempuran era digital yang seringkali menggerus nilai-nilai tradisi dan spiritualitas, SD YBPK Semampir justru mengambil langkah berani untuk “membumikan” simbol-simbol suci gereja agar mudah dipahami oleh Generasi Alpha.
Bagi orang awam, stola mungkin hanya terlihat sebagai kain pelengkap jubah pendeta. Namun, bagi warga GKJW, benda ini adalah “Busana Jabatan” yang sarat akan teologi visual. Dalam sesi pembelajaran yang berlangsung interaktif tersebut, para siswa diajak untuk tidak sekadar melihat, tetapi menyentuh dan memahami perbedaan mendasar antara stola yang dikenakan oleh Pendeta dengan stola bagi Majelis Jemaat (Penatua dan Diaken).
Berdasarkan pengamatan di lokasi, para siswa tampak kritis. Mereka diajarkan bahwa perbedaan stola bukan sekadar pada siapa yang memakainya, melainkan pada simbol yang tersemat di ujung kain tersebut.
Sesuai dengan pedoman tata busana GKJW, para siswa belajar mengidentifikasi simbol-simbol krusial:
“Jadi, kalau lihat gambar perahu, itu berarti Penatua ya, Bu?” celetuk salah seorang siswa yang disambut anggukan mantap sang pengajar. Metode pengenalan visual semacam ini dinilai sangat efektif menanamkan memori jangka panjang pada anak-anak.
Tak berhenti pada simbol, materi pelajaran hari itu juga membedah makna teologis di balik warna-warni stola. Dalam tradisi liturgi GKJW yang diajarkan, setiap warna memiliki “nyawa” dan waktu penggunaannya masing-masing. Ini bukan sekadar rotasi warna fashion, melainkan penanda waktu spiritual (Tahun Gerejawi).
Berikut adalah rangkuman materi mendalam yang dipelajari para siswa SD YBPK Semampir hari ini:
Para siswa diajarkan bahwa warna putih bukan hanya soal bersih. Dalam liturgi, stola putih digunakan pada hari-hari besar yang penuh sukacita seperti Natal, Paskah, dan Pernikahan. Ini adalah simbol kemenangan iman dan kemuliaan Tuhan.
Warna yang paling sering dilihat di gereja pada masa-masa biasa (Minggu Trinitatis). Hijau mengajarkan anak-anak tentang pentingnya bertumbuh, ibarat tunas tanaman yang terus menjulang ke atas. Ini adalah warna kehidupan dan pemeliharaan Tuhan sehari-hari.
Di kelas, guru yang mengenakan stola ungu memberikan contoh visual nyata. Warna ini mengajarkan sisi kontemplatif iman: kesedihan yang membawa pada pertobatan, masa penantian (Adven), dan penderitaan (Pra-Paskah). Namun, ungu juga menyiratkan kemuliaan seorang Raja, mengingatkan siswa bahwa kerendahan hati adalah jalan menuju kemuliaan sejati.
Warna yang paling menyita perhatian siswa. Merah melambangkan api Roh Kudus saat Pentakosta dan darah para martir. Ini menanamkan nilai keberanian untuk bersaksi dan semangat yang menyala-nyala dalam diri siswa.
Langkah SD YBPK Semampir memasukkan materi sedetail ini ke dalam kurikulum sekolah dasar mungkin memunculkan pertanyaan: Apakah ini tidak terlalu berat bagi anak-anak?
Dr. Teologi Andreas Wibowo, seorang pemerhati pendidikan Kristen dan liturgi (bukan pengurus yayasan setempat), memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Menurutnya, pengenalan simbol liturgi sejak usia operasional konkret (usia SD) justru sangat krusial.
“Anak-anak pada usia sekolah dasar berpikir secara konkret. Mereka sulit memahami konsep abstrak seperti ‘pengorbanan’ atau ‘pertobatan’ tanpa bantuan visual,” ujar Andreas saat dihubungi terpisah.
“Ketika sekolah seperti SD YBPK Semampir memperkenalkan stola, warna, dan simbol, mereka sebenarnya sedang ‘membendakan’ konsep teologi yang rumit itu. Stola merah bukan lagi sekadar kain, tapi representasi visual dari keberanian. Ini adalah metode pedagogi iman yang sangat cerdas. Mereka tidak hanya mencetak siswa yang pintar akademik, tetapi juga warga gereja yang sadar identitas (liturgically literate),” tambahnya.
Andreas juga menekankan bahwa memahami perbedaan peran (seperti antara Pendeta dan Majelis melalui stola) mengajarkan anak-anak tentang struktur sosial, penghormatan terhadap profesi, dan keragaman fungsi dalam satu tubuh komunitas sejak dini.
Sekolah yang beroperasi di bawah naungan Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) Cabang Kediri ini memang dikenal memiliki komitmen kuat dalam pembentukan karakter. Mengacu pada data profil sekolah (NPSN: 20540323), SD YBPK Semampir terus berinovasi dalam metode pengajaran yang tidak hanya terpaku pada teks akademik.
Pelajaran “Ke-GKJW-an” ini menjadi bukti bahwa sekolah swasta ini mampu mengintegrasikan nilai religius kultural dengan cara yang modern dan relevan. Dengan fasilitas pembelajaran yang mendukung dan tenaga pengajar yang kreatif, sekolah ini membuktikan bahwa belajar agama tidak harus membosankan.
Pukul 11.00 WIB, lonceng sekolah berbunyi. Sesi pengenalan stola berakhir, namun diskusinya belum usai. Beberapa siswa terlihat masih mengerubungi meja guru, meraba tekstur kain stola dan bertanya tentang simbol-simbol lainnya.
Apa yang terjadi di SD YBPK Semampir hari ini, Rabu (12/11/2025), adalah sebuah investasi jangka panjang. Ketika anak-anak ini kelak tumbuh dewasa dan melihat seorang pendeta mengenakan stola hijau atau majelis mengenakan stola dengan simbol perahu, mereka tidak akan melihatnya dengan tatapan kosong. Mereka akan melihat sebuah cerita, sebuah sejarah, dan sebuah makna teologis yang telah tertanam di benak mereka sejak bangku sekolah dasar.
Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya: menanamkan akar yang kuat agar pohon kehidupan mereka tidak mudah tumbang diterpa angin zaman. SD YBPK Semampir telah memulainya.