
BALI – Gemuruh tepuk tangan memecah ketegangan di Balai Diklat Industri Denpasar, Bali, pada Jumat, 14 November 2025. Di tengah persaingan ketat 774 tim dari 24 negara, sebuah narasi besar sedang ditulis oleh para peneliti muda dari Surabaya. Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK GKJW) Cabang Surabaya secara spektakuler berhasil meraih penghargaan di berbagai jenjang pada ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2025.
Prestasi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bukti bahwa kreativitas siswa Indonesia, khususnya dari sekolah Kristen YBPK Surabaya, mampu bersaing dan diakui oleh juri internasional dari berbagai lembaga prestisius seperti IYSA, Universitas Diponegoro, hingga IZMIRIISEEF Turki.
Berdasarkan Keputusan Juri Nomor: 138/DJ.ISIF/IYSA-VOKASI UNDIP-IZMIRIISEEF/XI/2025, berikut adalah raihan prestasi tim riset YBPK Surabaya:
Jenjang Sekolah | Penghargaan | Kategori | Inovasi Proyek |
SD Kristen YBPK Surabaya | GOLD MEDAL | Education | SuryoStory: Platform Digital Warisan Surabaya |
SMP Kristen YBPK I Surabaya | SILVER MEDAL | Social Science | EcoFish Kenjeran: E-Commerce Berkelanjutan |
SMA Kristen YBPK 1 Surabaya | GOLD MEDAL | Life Science | Clovera Nano Spray: Skin Rejuvenation Semanggi |
Siapa sangka, di tangan anak-anak usia sekolah dasar, sejarah kota pahlawan bisa bertransformasi menjadi platform digital yang canggih? Tim SD Kristen YBPK Surabaya yang beranggotakan Sebastian Maximus Hermanus, Henokh Shallom Haleluya Sengko, Samuel Jonas Christianto, dan Batchalder Shalometa Christanta berhasil menciptakan SuryoStory.
Platform ini menggunakan pendekatan interactive storytelling untuk mengeksplorasi warisan budaya Surabaya. Di tengah gempuran konten modern, anak-anak ini justru menarik minat juri dengan cara mereka melestarikan nilai lokal melalui teknologi informasi. Keberhasilan mereka meraih Gold Medal di kategori Education membuktikan bahwa literasi sejarah bisa dikemas secara kekinian.
Beranjak ke jenjang menengah, tim SMP Kristen YBPK I Surabaya membawa misi sosial yang kuat. Josephine Eloy Sengko, Clarissa Natania Umboh, dan Nadine Patience Elisheva Handoko menyodorkan proyek EcoFish Kenjeran.
Inovasi ini adalah sistem e-commerce berkelanjutan yang dirancang khusus untuk nelayan lokal di kawasan Kenjeran. Di era digital, nelayan tradisional seringkali tertinggal dalam rantai pasok. EcoFish Kenjeran hadir sebagai jembatan untuk memperluas pasar dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir Surabaya. Medali Silver di kategori Social Science menjadi apresiasi atas kepekaan sosial mereka.
Puncaknya, tim SMA Kristen YBPK 1 Surabaya menghadirkan riset mendalam di kategori Life Science. Tim yang digawangi Richolmen Julio Mandenas, Angelina Putri Candra Christiana, Mikel Jonathan Siwalette, Yabes Sefraim Lempoy, dan Jeanette Verlinna Dhariar ini meluncurkan Clovera Nano Spray.
Memanfaatkan ekstrak Marsilea crenata atau yang akrab dikenal sebagai tanaman Semanggi, mereka menciptakan solusi herbal untuk peremajaan kulit dalam bentuk Nano Spray. Penggunaan teknologi nano memungkinkan partikel ekstrak meresap lebih efektif ke dalam kulit, sebuah inovasi yang sangat relevan dengan industri kecantikan masa kini. Tak heran, Gold Medal pun berhasil diamankan oleh tim ini.
Keberhasilan ini menempatkan YBPK GKJW Surabaya sejajar dengan sekolah-sekolah elit dari Amerika Serikat, Korea Selatan, China, hingga Rumania yang juga berlaga di Bali. ISIF 2025 bukan sekadar lomba, melainkan panggung pembuktian bahwa riset berbasis kearifan lokal jika dipadukan dengan ilmu pengetahuan dapat menghasilkan solusi yang berdampak luas.
Terkait fenomena riset di kalangan pelajar, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro sekaligus salah satu penanggung jawab keabsahan kompetisi ini, menyatakan pentingnya wadah riset bagi generasi muda:
“Dunia penelitian bukan lagi milik orang dewasa atau akademisi senior saja. Kebutuhan akan kompetisi ilmiah dalam bentuk proyek sains antar siswa sangat krusial sebagai forum bagi mereka untuk terus berkarya dan berinovasi di dunia riset yang dinamis.”
Kemenangan tim riset YBPK Surabaya ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat (irrevocable). Seluruh keputusan telah ditandatangani oleh Dewan Komite internasional, termasuk Presiden IYSA Deni Irawan dan Direktur IZMIRIISEEF Ümit Karademir, serta mulai berlaku sejak ditetapkan di Bali pada 14 November 2025.
Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh siswa di Surabaya dan Indonesia untuk berani bermimpi dan meneliti. Dari Surabaya, untuk dunia, YBPK GKJW telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersinar di panggung internasional.
Selamat kepada para pemenang! Teruslah meneliti, teruslah menginspirasi.