
Surabaya, 10 November 2025 – Langit Surabaya pagi ini tampak menggantung rendah. Awan mendung berarak perlahan, membawa hawa sejuk yang tidak biasa bagi kota yang terkenal dengan panasnya yang menyengat. Namun, di kawasan Wiyung, kehangatan justru memancar dari ribuan langkah kaki kecil yang memadati jalanan perkampungan.
Tepat pukul 07.30 WIB, suara snare drum memecah keheningan pagi. Bukan suara tembakan artileri seperti 80 tahun silam, melainkan irama marching band yang penuh semangat dari siswa-siswi SD dan SMP Kristen YBPK Wiyung. Mereka tidak sedang menuju medan perang, tetapi mereka sedang melakukan napak tilas sejarah yang tak kalah heroiknya.
Ini adalah perayaan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025. Sebuah momen sakral yang di sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Badan Pendidikan Kristen Greja Kristen Jawi Wetan (YBPK-GKJW) dirayakan bukan sekadar sebagai seremoni, melainkan sebuah pesta edukasi karakter yang hidup.
Di barisan depan kirab YBPK Wiyung, seorang bocah laki-laki kelas 4 SD melangkah tegap dengan kostum veteran lengkap: topi berwarna lusuh, seragam hijau lumut kebesaran, dan bambu runcing yang digenggam erat. Di sebelahnya, berjalan seorang “dokter kecil” dan “perawat” dengan stetoskop mainan yang menggantung di leher, serta seorang “polisi cilik” yang sesekali melambai ke arah warga yang menonton di pinggir jalan.
Pemandangan ini sangat kontras namun harmonis. Kostum adat Jawa lurik berpadu dengan seragam profesi modern, menciptakan diorama berjalan tentang Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Seorang petugas kepolisian asli yang turut mengawal rombongan tampak tersenyum, sesekali membantu menyeberangkan “jenderal kecil” agar tidak tertinggal rombongan. Suasana ceria, patriotik, dan penuh gelak tawa, menghapus kesan seram dari kata “perang”, menggantinya dengan harapan.
Sementara itu, puluhan kilometer dari Surabaya, suasana yang lebih khidmat namun tak kalah merah-putih terasa di TK Kristen Aghia Wacana YBPK Cabang Segaran, Dlangu, Mojokerto.
Di halaman sekolah yang asri, anak-anak usia dini berbaris rapi mengenakan busana bernuansa merah dan putih. Tidak ada pawai panjang yang melelahkan fisik mereka, namun semangat yang ditanamkan sama besarnya. Guru-guru di sana mengajak mereka berdiri tegak, menghormat pada Sang Saka Merah Putih. Bagi anak-anak TK ini, Hari Pahlawan adalah tentang mengenal warna bendera mereka, mengenal kata “berani”, dan belajar mencintai tanah tempat mereka berpijak.
Untuk memahami mengapa tanggal ini begitu keramat, kita perlu memutar waktu tepat 80 tahun ke belakang.
Sejarah mencatat, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Ini bukan sekadar kontak senjata; ini adalah manifestasi harga diri bangsa.
Pemicunya adalah rentetan peristiwa panas pasca-kemerdekaan. Mulai dari insiden perobekan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi Merah-Putih di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) pada September 1945, hingga tewasnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada akhir Oktober 1945. Kematian Mallaby memicu kemarahan Inggris yang kemudian mengeluarkan ultimatum mematikan: rakyat Surabaya harus menyerahkan senjata selambat-lambatnya pukul 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945. Jika tidak, Surabaya akan digempur dari darat, laut, dan udara.
Apakah rakyat Surabaya gentar? Tidak. Bung Tomo, melalui siaran radio yang melegenda, membakar semangat arek-arek Suroboyo dengan pekikan “Merdeka atau Mati!”. Pertempuran pecah. Ribuan pejuang gugur, namun dunia terbelalak melihat kegigihan bangsa yang baru lahir ini mempertahankan kedaulatannya.
Sejarawan M.C. Ricklefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia since c.1200 mencatat bahwa Pertempuran Surabaya adalah titik balik yang meyakinkan dunia internasional bahwa Republik Indonesia bukan sekadar “boneka Jepang”, melainkan sebuah negara yang didukung penuh oleh rakyatnya yang siap mati.
Lantas, apa relevansi pertempuran berdarah itu bagi siswa-siswi YBPK-GKJW di tahun 2025 ini?
Peringatan Hari Pahlawan di lingkungan sekolah Kristen seperti YBPK bukan sekadar romantisasi masa lalu. Tema nasional Hari Pahlawan tahun 2025 yang diusung pemerintah, “Pahlawanku Teladanku”, menemukan resonansi yang kuat dalam visi pendidikan YBPK.
Bagi YBPK-GKJW, pahlawan modern bukan lagi mereka yang mengangkat senjata, melainkan mereka yang memiliki integritas, kasih, dan semangat melayani. Melalui karnaval profesi—ada yang menjadi guru, dokter, pendeta, hingga insinyur—sekolah sedang menanamkan mindset bahwa setiap profesi adalah ladang perjuangan.
Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, pernah berpesan:
“Percaya, tegas, penuh ilmu hingga matang jiwanya, serta percaya diri, tidak mudah takut, tabah menghadapi rintangan apapun.”
Kutipan ini sejalan dengan apa yang terlihat di wajah-wajah siswa YBPK Wiyung dan Mojokerto hari ini. Ketika mereka mengenakan kostum pahlawan, mereka sedang melakukan role-playing (bermain peran). Dalam psikologi pendidikan, ini adalah metode ampuh untuk membangun empati. Anak tidak hanya “tahu” tentang pahlawan, mereka “merasakan” menjadi pahlawan.
Seorang pakar psikologi perkembangan anak, Jean Piaget, menekankan bahwa bermain peran membantu anak-anak melampaui pemikiran egosentris mereka dan mulai memahami perspektif orang lain. Ketika seorang siswa SD YBPK mengenakan baju perawat, ia belajar bahwa kepahlawanan berarti “merawat orang lain”. Ketika ia mengenakan baju polisi, ia belajar tentang “melindungi”.
Kekuatan pesan Hari Pahlawan 2025 di YBPK-GKJW terletak pada keseragaman semangat dalam keberagaman ekspresi.
Jika di Wiyung perayaan ditandai dengan hiruk-pikuk karnaval yang melibatkan masyarakat sekitar—menunjukkan sekolah yang terbuka dan menyatu dengan lingkungan—maka di unit lain seperti di TK Aghia Wacana Segaran Dlangu, perayaan lebih bersifat internalisasi nilai sejak dini.
Meski terpisah jarak geografis antara Surabaya dan Mojokerto, kedua unit sekolah ini diikat oleh benang merah yang sama: menanamkan rasa cinta tanah air (nasionalisme) yang berlandaskan iman. Ini adalah implementasi nyata dari firman Tuhan untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana kita tinggal.
Di tengah cuaca mendung tahun 2025 ini, pesan yang tersirat sangat jelas. Tantangan masa depan bagi Generasi Alpha (anak-anak yang lahir setelah 2010) akan sekelabu langit mendung: ketidakpastian ekonomi global, tantangan teknologi AI, hingga krisis iklim. Namun, semangat “10 November” mengajarkan mereka untuk tidak menyerah pada “ultimatum” zaman.
Artikel ini ditulis bukan untuk membanggakan masa lalu semata, tetapi untuk mengingatkan kita semua—orang tua, guru, dan masyarakat—bahwa pendidikan sejarah di YBPK-GKJW tidak berhenti di buku teks. Ia turun ke jalanan aspal Wiyung, ia berdiri tegak di lapangan rumput Segaran Dlangu.
Hari Pahlawan 2025 di sekolah-sekolah YBPK-GKJW adalah bukti bahwa api yang dinyalakan Bung Tomo 80 tahun lalu masih menyala, kini dalam bentuk semangat belajar, toleransi, dan cita-cita luhur anak-anak Kristen yang siap menjadi garam dan terang bagi Indonesia.
Mereka mungkin tidak lagi memegang bambu runcing yang tajam, tetapi mereka memegang pena, teknologi, dan karakter yang akan “meruncingkan” masa depan bangsa ini.
Selamat Hari Pahlawan. Merdeka!