cropped-cropped-logo-ybpk.png
Loading ...

The Power of We: Mengubah 'Saya' Menjadi 'Kita', Wujudkan Generasi Emas Berbasis Sosial dan Emosional

The Power of We: Mengubah ‘Saya’ Menjadi ‘Kita’, Wujudkan Generasi Emas Berbasis Sosial dan Emosional

Dok. Pengurus Pusat YBPK-GKJW

PONOROGO – Di tengah gempuran era digital yang sering kali memicu sikap individualis, sebuah gerakan fundamental terjadi di ruang kelas TK Ester Ponorogo. Bukan sekadar rapat rutin, namun sebuah sarasehan mendalam yang digelar pada Sabtu, 9 Januari 2026, menjadi titik balik bagaimana pendidikan anak usia dini seharusnya dikelola.

Dihadiri oleh Pengurus Cabang YBPK GKJW Ponorogo dan TK Trenceng yang dipimpin oleh Organ YBPK-GKJW Pusat, Ibu Dore, Ibu Warih, kegiatan ini menyoroti urgensi kolaborasi dalam ekosistem pendidikan. Bertempat di TK Ester GKJW Ponorogo, para guru dan Kepala TK Ester Ponorogo dan TK Trenceng diajak menyelami makna “Power of We: Mengubah ‘Saya’ Menjadi [Kita] dalam Mendidik.”

Dok. Pengurus Pusat YBPK-GKJW
Dok. Pengurus Pusat YBPK-GKJW

Filosofi "The Power of We": Lebih dari Sekadar Slogan

Mengacu pada materi yang terpampang dalam pertemuan tersebut, konsep “Power of We” bukanlah jargon semata. Dalam dunia pendidikan modern, ini adalah antitesis dari metode top-down yang kaku. Pendidikan tidak bisa lagi dijalankan secara parsial oleh guru di kelas saja, atau orang tua di rumah saja.

Menurut Michael Fullan, seorang pakar reformasi pendidikan global dan penulis buku The New Meaning of Educational Change, keberhasilan sebuah sekolah tidak ditentukan oleh kecanggihan kurikulum semata, melainkan oleh “Collaborative Professionalism”. Fullan menekankan bahwa ketika pendidik bergerak dari isolasi (bekerja sendiri) menuju kolaborasi (bekerja sebagai ‘Kita’), dampak terhadap prestasi siswa meningkat secara eksponensial.

Di tempat yang berbeda Pak Soegeng dan Pak Agung memberikan pengarahan pentingnya Pengurus Cabang dapat bersinergi dengan sekolah dan memahami AD-ART YBPK. Transisi narasi dari “Saya” (guru sebagai individu) menjadi “Kita” (sekolah sebagai komunitas) adalah kunci untuk menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. TK Ester Ponorogo dan TK Trenceng, yang berada di bawah naungan YBPK GKJW, memperkuat fondasi ini—membangun sebuah super-team, bukan sekadar kumpulan superman.

Dok. Pengurus Pusat YBPK-GKJW

Kompetensi Sosial dan Emosional: Jantung Pendidikan Karakter

Salah satu fokus utama dalam diskusi yang didampingi oleh Ibu Dr. Nugraheni Warih Utami, M.Pd adalah peningkatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Mengapa ini krusial?

Data menunjukkan bahwa kemampuan kognitif (baca, tulis, hitung) hanyalah sebagian kecil dari kesuksesan masa depan anak. Daniel Goleman, psikolog ternama yang mempopulerkan istilah Emotional Intelligence, dalam berbagai jurnal ilmiahnya menyebutkan bahwa kecerdasan emosional menyumbang 80% dari faktor penentu kesuksesan seseorang dalam kehidupan sosial dan pekerjaan.

“Anak-anak tidak belajar dari orang yang tidak mereka sukai, atau orang yang tidak bisa mengelola emosinya,” adalah prinsip dasar yang sering dikutip dalam psikologi pendidikan.

Dalam konteks TK Ester Ponorogo, penerapan KSE berarti guru harus terlebih dahulu memiliki kestabilan emosi sebelum mentransfernya kepada murid. Sarasehan ini menjadi wadah “refilling” energi bagi para pendidik. Guru diajarkan untuk mengenali emosi diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Ketika kepala sekolah dan guru TK Ester memiliki well-being yang baik, atmosfer kelas akan berubah menjadi ruang yang aman dan menyenangkan bagi siswa untuk bertumbuh.

Standar Pelaksanaan Sekolah dan Validitas Data

Peningkatan kualitas SDM di TK Ester Ponorogo ini berjalan beriringan dengan pemenuhan standar formal pemerintah. Berdasarkan data referensi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), TK Ester Ponorogo dengan NPSN 20571133 tercatat sebagai satuan pendidikan yang aktif dan terverifikasi.

Pentingnya data ini tidak bisa diabaikan. Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd, tokoh pendidikan Indonesia, sering menekankan bahwa manajemen sekolah yang baik harus berbasis data dan transparansi. Keterkaitan antara data pokok pendidikan (Dapodik) yang valid di laman Kemendikdasmen dengan realita kualitas pengajaran di lapangan adalah indikator kesehatan sebuah institusi pendidikan.

Baca Juga  Neni Dyahandajani, S.Sos

Langkah pengurus cabang YBPK Ponorogo bersama Pak Soegeng, Pak Agung dan organ YBPK-GKJW lainnya untuk “turun gunung” memastikan sinkronisasi antara standar nasional dan praktik di lapangan adalah langkah strategis. Mereka memastikan bahwa TK Ester Ponorogo dan TK Trenceng tidak hanya unggul secara administratif (terlihat dari status NPSN yang valid), tetapi juga unggul dalam “kurikulum kehidupan” yang diajarkan kepada anak didik.

Dok. Pengurus Pusat YBPK-GKJW

Sinergi YBPK-GKJW: Membangun Manusia Utuh

Merujuk pada visi besar yayasan yang dapat ditelusuri melalui situs resmi ybpk-gkjw.org, lembaga ini memiliki komitmen kuat dalam pelayanan pendidikan yang holistik. Pendidikan di bawah naungan YBPK tidak sekadar mencetak anak pintar, tetapi anak yang “utuh”—cerdas akal, luhur budi, dan peka sosial.

Kegiatan sarasehan di Ponorogo ini adalah manifestasi nyata dari visi tersebut. Kehadiran pengurus cabang mendampingi para guru TK menunjukkan bahwa manajemen yayasan menjalankan fungsi support system yang efektif.

Dalam teori manajemen organisasi nirlaba yang dikemukakan oleh Peter Drucker, keberhasilan sebuah institusi sosial terletak pada kemampuannya untuk menyatukan visi relawan (pengurus) dengan profesional (guru/kepsek). Sinergi yang terlihat dalam foto kegiatan—di mana senyum merekah dari para guru dan pengurus—menandakan adanya budaya organisasi yang sehat. Tidak ada sekat birokrasi yang kaku; yang ada adalah semangat kekeluargaan untuk satu tujuan: kualitas anak didik.

Menuju Viralitas Kebaikan: Sebuah Refleksi

Apa yang dilakukan di GKJW Ponorogo pada tanggal 9 Januari 2026 ini mungkin terlihat sederhana: sebuah pertemuan di ruang kelas. Namun, substansinya sangatlah besar. Di saat banyak sekolah berlomba-lomba memamerkan fasilitas fisik yang mewah, TK Ester Ponorogo dan Pengurus Cabang YBPK memilih untuk berinvestasi pada “perangkat lunak” pendidikan, yaitu hati dan pikiran para gurunya.

Konsep “Power of We” yang diusung Ibu Nugraheni Warih Utami, M.Pd, serta pengawalan ketat dari Pak Soegeng dan Pak Agung, adalah resep ampuh untuk menciptakan sekolah yang tidak hanya viral di media sosial karena prestasinya, tetapi juga viral di hati masyarakat karena ketulusan pelayanannya.

Pesan bagi orang tua dan pemerhati pendidikan sangat jelas: Sekolah terbaik bukanlah sekolah yang paling mahal, melainkan sekolah di mana guru-gurunya bahu-membahu (We) untuk memahami dan mengembangkan potensi unik setiap anak (Saya). Dan itu, tampaknya sedang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh di Ponorogo.